Dalam Islam, ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya ibarat dua sayap yang membuat seorang hamba bisa terbang menuju keridhaan Allah. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah, sementara amal tanpa ilmu bagaikan berjalan tanpa arah. Oleh karena itu, ulama salaf sangat menekankan pentingnya mensyukuri ilmu dengan amal, dan mensyukuri amal dengan terus menambah ilmu.
Syekh Sahl at-Tustari رحمه الله pernah berkata:
شُكْرُ الْعِلْمِ الْعَمَلُ، وَشُكْرُ الْعَمَلِ زِيَادَةُ الْعِلْمِ
“Cara mensyukuri ilmu adalah dengan mengamalkannya, dan cara mensyukuri amal adalah dengan menambah ilmu.”
1. Mensyukuri Ilmu dengan Amal
Ilmu adalah karunia besar dari Allah. Namun, ilmu tidak akan bermakna jika tidak diwujudkan dalam amal saleh. Seseorang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya bagaikan pelita yang menerangi orang lain, tetapi dirinya terbakar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal… di antaranya tentang ilmunya, sejauh mana ia mengamalkannya.”
(HR. Tirmidzi, no. 2416)
Artinya, ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tapi untuk diamalkan. Seorang yang memahami Al-Qur’an dan sunnah hendaknya menjadikannya panduan hidup. Setiap pengetahuan yang ia miliki menambah rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Rasa takut (khauf) inilah yang menjadi buah ilmu sejati. Maka bentuk syukur seorang alim adalah dengan menjadikan ilmunya hidup dalam perbuatan, bukan hanya dalam kata-kata.
2. Mensyukuri Amal dengan Menambah Ilmu
Sebaliknya, amal juga harus disyukuri dengan cara menambah ilmu. Sebab tanpa ilmu, amal bisa tersesat atau tidak diterima. Dalam Islam, amal yang diterima harus memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Untuk mengetahui tuntunan tersebut, seseorang tentu harus terus belajar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim, no. 2699)
Maka, setiap amal saleh seharusnya mendorong kita untuk semakin haus akan ilmu, agar amal yang kita lakukan semakin benar dan sempurna. Dengan ilmu, seseorang akan tahu bagaimana cara beribadah yang benar, bagaimana adab dalam bermuamalah, dan bagaimana menghindari dosa serta kesalahan.
3. Ilmu dan Amal: Dua Arah Syukur yang Tak Pernah Berhenti
Syekh Sahl at-Tustari menegaskan bahwa ilmu dan amal saling melengkapi dalam siklus yang terus berputar. Ilmu menuntun amal, dan amal menghidupkan ilmu. Ketika seseorang beramal karena ilmunya, Allah akan menambah ilmunya sebagai balasan atas rasa syukurnya.
Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Maka, semakin seseorang bersyukur atas ilmu dan amalnya, semakin Allah tambahkan nikmat tersebut. Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata: ilmu diamalkan, amal disertai ilmu.
Penutup
Ungkapan Syekh Sahl at-Tustari ini bukan sekadar kata mutiara, tetapi cerminan dari hakikat perjalanan spiritual seorang mukmin. Syukur sejati atas ilmu adalah amal, dan syukur sejati atas amal adalah semangat untuk terus belajar.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mensyukuri ilmu dengan amal, dan mensyukuri amal dengan terus menambah ilmu.
اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علماً نافعاً
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, manfaatkanlah kami dengan ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat.”
