Semakin Minum, Semakin Haus — Hakikat Cinta Dunia

Sebagian Ahli Hikmah berkata:

“Dunia itu seperti air asin. Semakin banyak seseorang meminumnya, maka ia pun semakin haus.”
(Sirojul Muluk, hal. 25)

Makna Kiasan Dunia seperti Air Asin

Perumpamaan ini menggambarkan hakikat dunia yang menipu. Air asin tidak pernah menghilangkan haus, justru membuat tenggorokan semakin kering. Begitu pula dengan cinta terhadap dunia. Semakin seseorang mengejarnya, semakin ia merasa kurang dan tak pernah puas.

Kekayaan, jabatan, dan kenikmatan dunia memang bisa memanjakan mata dan hati sesaat, namun tidak mampu memberi ketenangan jiwa yang hakiki. Nafsu duniawi itu seperti api yang tidak pernah padam—semakin diberi bahan bakar, semakin besar nyalanya.

Allah Ta‘ala mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia:

“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat sementara, bukan tujuan akhir. Orang yang menjadikannya sebagai pusat kehidupan akan terus merasa gelisah, karena dunia memang tidak pernah cukup untuk memuaskan keinginan manusia.

Cinta Dunia, Akar Segala Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan (dosa).”
(HR. Al-Baihaqi)

Cinta dunia membuat manusia lupa pada akhirat. Ia rela menipu, berbuat zalim, bahkan meninggalkan ibadah demi harta dan kedudukan. Padahal semua itu hanya fatamorgana yang akan lenyap.

Ketenangan Hanya Ada dalam Zikrullah

Manusia bisa saja memiliki harta dan kenikmatan dunia, namun ketenangan sejati tidak akan ia dapatkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Artinya, dunia bukanlah musuh, namun ketika hati terlalu mencintainya melebihi cinta kepada Allah, di sanalah penyakit hati tumbuh. Dunia seharusnya dijadikan alat untuk beramal menuju akhirat, bukan menjadi tujuan yang memperbudak kita.

Penutup

Renungkanlah, berapa banyak orang yang memiliki segalanya namun hatinya tetap kosong dan gelisah. Dunia yang ia kejar tak ubahnya air laut yang semakin diminum, semakin menambah rasa haus.
Sebaliknya, orang yang hatinya terpaut kepada Allah, meski hidup sederhana, ia merasakan ketenangan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.

Semoga kita termasuk golongan yang menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Karena dunia akan pergi, sedangkan akhiratlah yang kekal selamanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top