Dalam kehidupan modern, terutama di era media sosial, banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian dan pujian. Jumlah “like”, “views”, dan komentar positif sering dijadikan tolak ukur keberhasilan, bahkan kebahagiaan. Padahal, dalam pandangan Islam, pujian manusia tidak selalu menunjukkan nilai seseorang di sisi Allah ﷻ.
Hakikat Pujian di Dunia
Al-Auza’i رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya di antara manusia ada orang yang menyukai pujian terhadap dirinya, padahal dia di sisi Allah tidaklah lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”
(Al-Hilyah, 8/255)
Ungkapan ini menggambarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak manusia mengaguminya, tetapi pada sejauh mana ia ikhlas beramal karena Allah. Betapa banyak orang yang tampak mulia di mata manusia, namun di sisi Allah tidak memiliki nilai apa-apa, karena amalnya hanya untuk mencari pengakuan.
Pujian Tidak Menambah Nilai di Sisi Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim, no. 2564)
Hadis ini menegaskan bahwa Allah menilai keikhlasan dan kebenaran amal, bukan tampilan luar atau pengakuan manusia. Maka, tidak ada manfaatnya menjadi terkenal jika ketenaran itu tidak mendekatkan diri kepada Allah.
Bahaya Cinta Pujian dan Popularitas
Cinta terhadap pujian dapat menjerumuskan seseorang ke dalam penyakit riya’ — yaitu beramal bukan karena Allah, melainkan demi dilihat atau dipuji manusia. Riya’ adalah dosa yang sangat halus, bahkan Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai syirik kecil.
Beliau ﷺ bersabda:
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya’.”
(HR. Ahmad, 23630)
Riya’ menghapus pahala amal, sebagaimana api membakar kayu. Seseorang mungkin terlihat berbuat baik, namun jika niatnya bukan karena Allah, amal itu akan menjadi sia-sia.
Nilai Sejati di Sisi Allah
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Maka, ukuran kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan popularitas, kekayaan, atau pujian manusia. Orang yang beramal dalam kesunyian, tanpa berharap pengakuan, justru lebih dicintai oleh Allah.
Penutup: Ikhlaslah, Meski Tak Dikenal
Janganlah kita tertipu oleh gemerlap dunia dan sanjungan manusia. Amal yang diterima adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas. Sebaliknya, amal yang dikerjakan demi pujian hanyalah fatamorgana yang tidak bernilai di akhirat.
Mari kita belajar untuk lebih fokus mencari ridha Allah, bukan ridha manusia. Karena saat semua pujian sirna, hanya keridhaan Allah yang kekal.
