Dalam sebuah nasihat penuh hikmah, Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:
“Barangsiapa yang mencintai dunia dan senang dengannya, maka akan dicabut rasa takut pada akhirat dari hatinya.”
(Hilyatul Auliya’ 10/22)
Kalimat ini bukan sekadar petuah ulama, namun peringatan mendalam tentang bagaimana cinta terhadap dunia bisa menggerogoti keimanan seseorang tanpa disadari.
1. Cinta Dunia: Akar dari Banyak Penyakit Hati
Dunia diciptakan Allah sebagai tempat persinggahan sementara, bukan tujuan akhir. Namun ketika hati manusia terlalu terpaut dengan dunia — kekayaan, kedudukan, dan kenikmatan fana — maka perlahan hatinya menjadi keras dan lupa akan kehidupan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di sana tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka.”
(QS. Hud: 15–16)
Ayat ini menunjukkan bahwa mencintai dunia secara berlebihan dapat menutup pandangan seseorang terhadap kehidupan setelah mati. Dunia menjadi pusat orientasi, sementara akhirat terlupakan.
2. Dicabutnya Rasa Takut kepada Akhirat
Rasa takut kepada Allah dan siksa-Nya adalah tanda keimanan yang hidup. Ia menjadi pengendali hawa nafsu dan dorongan untuk taat. Namun ketika cinta dunia menguasai hati, rasa takut itu akan hilang — dicabut oleh Allah sebagai akibat dari cinta yang salah arah.
Sufyan Ats-Tsauri memahami hal ini dengan dalam. Ia mengingatkan bahwa ketika seseorang terlalu cinta pada dunia, Allah akan mencabut rasa takut akhirat dari hatinya, karena dua cinta tidak bisa bersatu dalam satu hati — cinta dunia dan cinta akhirat saling menyingkirkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibukakan untuk kalian sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba seperti mereka, dan dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggambarkan bahwa keterikatan pada dunia bisa menjadi sebab kehancuran, bukan karena dunia itu buruk, tetapi karena manusia meletakkan dunia di dalam hati, bukan di tangan.
3. Tanda-Tanda Hati yang Telah Dicabut Rasa Takutnya
Hati yang telah dicabut rasa takutnya terhadap akhirat akan tampak dalam perilaku sehari-hari:
-
Ringan melakukan dosa karena tidak merasa akan dihisab.
-
Lalai dalam ibadah karena dunia lebih menarik.
-
Gembira ketika mendapatkan dunia, namun sedih berlebihan ketika kehilangannya.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ketika hati sudah keras dan mati, peringatan tidak lagi berpengaruh. Inilah tanda bahaya terbesar bagi seorang mukmin.
4. Menumbuhkan Kembali Rasa Takut kepada Akhirat
Rasa takut kepada Allah dan akhirat tidak muncul begitu saja, namun tumbuh dari kesadaran iman dan tadabbur terhadap ayat-ayat Allah. Cara untuk menumbuhkannya antara lain:
-
Memperbanyak zikir dan istighfar, agar hati menjadi lembut.
-
Merenungkan kematian dan akhirat, agar dunia tampak kecil.
-
Bersahabat dengan orang saleh, karena mereka mengingatkan kita pada Allah.
-
Menyibukkan diri dengan amal saleh, agar hati tidak dikuasai hawa nafsu.
Allah berfirman:
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.”
(QS. Ar-Rahman: 46)
Ayat ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan rasa takut kepada Allah — ia bukan tanda kelemahan, tapi justru bukti kemuliaan hati yang hidup.
Penutup
Cinta dunia yang berlebihan akan mencabut rasa takut kepada akhirat, menjadikan manusia lupa tujuan hidupnya. Dunia hanyalah ladang, sementara akhirat adalah tempat panen. Maka, jagalah hati agar tidak terpaut pada dunia, dan rawatlah rasa takut kepada Allah, karena ia adalah cahaya yang menuntun menuju keselamatan abadi.
“Jangan biarkan dunia masuk ke dalam hatimu, cukup biarkan ia di tanganmu. Karena ketika dunia menguasai hatimu, di situlah akhiratmu mulai hilang.”
