Dalam kehidupan, setiap manusia pasti menghadapi berbagai keadaan—kesenangan, ujian, keberhasilan, maupun kegagalan. Tidak selalu semuanya berjalan sesuai harapan. Inilah sebabnya Islam mengajarkan sikap mulia yang menjadi sumber ketenangan hati: ridha terhadap takdir Allah.
Pada poster tersebut, disebutkan perkataan seorang ulama bernama Abdul Wahid bin Zaid رحمه الله:
“Ridha merupakan pintu Allah yang paling besar, surga dunia, dan tempat istirahat bagi para ahli ibadah.”
(Ar-Ridho anillahi Biqodho’ihi – Ibnu Abi Dunya)
Perkataan ini menggambarkan bahwa ridha bukan hanya sikap pasrah, tetapi jalan menuju kebahagiaan sejati. Ketika seseorang menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, ia akan menemukan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Apa itu Ridha kepada Takdir?
Ridha berarti menerima apa yang Allah tetapkan, baik yang menyenangkan maupun yang berat, dengan keyakinan bahwa:
-
Allah Maha Bijaksana
-
Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui
-
Takdir Allah selalu mengandung hikmah
Ridha bukan berarti tidak berusaha. Seorang muslim tetap berikhtiar, tetapi hatinya tidak memprotes apabila hasilnya tidak sesuai keinginan. Ia yakin bahwa Allah memilihkan yang terbaik.
Dalil Al-Qur’an tentang Berserah dan Ridha
1. Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menegaskan bahwa takdir apa pun yang Allah tetapkan pasti bisa kita jalani.
2. Semua yang terjadi sudah ditulis dan Allah mengetahui hikmahnya
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.”
(QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai ketetapan Allah yang penuh hikmah.
Hadis Mengenai Ridha kepada Takdir Allah
1. Ridha membawa ketenangan, marah kepada takdir membawa kesengsaraan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan (Allah). Dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan (Allah).”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini mempertegas bahwa hati yang ridha akan mendapatkan ketenangan dan cinta Allah.
2. Iman tidak sempurna tanpa percaya pada takdir
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak beriman seorang hamba hingga ia beriman kepada takdir baik dan buruknya.”
(HR. Muslim)
Artinya, konsep takdir adalah bagian penting dalam aqidah seorang muslim.
Mengapa Ridha Itu Penting?
1. Memberikan ketenangan batin
Orang yang ridha tidak akan larut dalam kesedihan berlebihan. Ia memahami bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik.
2. Terhindar dari putus asa
Ia tetap optimis dan menyerahkan hasil kepada Allah.
3. Menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah
Ridha adalah tanda tawakal yang kuat dan iman yang matang.
4. Menjadi “surga dunia”
Seperti kata ulama dalam poster, ridha menjadikan kehidupan terasa lebih ringan dan damai.
Bagaimana Cara Melatih Ridha?
-
Perkuat iman kepada qadha dan qadar
Pahami bahwa takdir Allah selalu baik bagi orang beriman. -
Perbanyak doa
Minta hati yang lapang dan sabar. -
Syukuri nikmat dan hikmah-hikmah kecil
Kekhawatiran akan berkurang ketika kita belajar menghitung nikmat. -
Berbaik sangka kepada Allah
Sangkaan baik membuat hati lebih mudah menerima ketetapan-Nya. -
Fokus pada ikhtiar
Kerjakan bagian kita, sisanya serahkan kepada Allah.
Penutup
Ridha kepada takdir Allah adalah sumber ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh apa pun di dunia. Ia adalah “surga dunia” bagi hati seorang mukmin, karena dengan ridha, seseorang tidak mudah goyah oleh ujian dan tidak lupa diri saat mendapatkan nikmat.
Semoga Allah melembutkan hati kita agar selalu ridha dengan ketetapan-Nya, baik ketika dilimpahi nikmat maupun saat diuji cobaan.
Aamiin.
